BEKRAF Habibie Festival 2017 Ditutup Dengan Optimisme Masa Depan Indonesia

Sesaat setelah upacara penutupan BEKRAF Habibie Festival 2017, Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden Ketiga RI, Bapak Teknologi Indonesia, sekaligus ikon dari BEKRAF Habibie Festival berfoto bersama dengan Ricky Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Ilham Akbar Habibie, Pendiri Gerakan Berkarya!Indonesia selaku penyelenggara BEKRAF Habibie Festival 2017 beserta tim yaitu Sachin Gopalan, George Siregar, Rahayu Widyawati dan Haris Abdullah.

Setelah digelar selama tujuh hari sejak 7 Agustus 2017 lalu, pada Minggu (13/8) sore tadi BEKRAF Habibie Festival 2017 resmi ditutup. Seremoni penutupan festival teknologi terbesar di Indonesia itu berlangsung sederhana namun tetap khidmat.

Acara diawali pemberian sejumlah hadiah bagi para pemenang kompetisi “Axioo Skill Contest” yang melibatkan ratusan siswa dari 40 SMK. Tampil sebagai juara umum, SMK Negeri 4 Serang, Jawa Barat, yang memenangi 3 piala dari 6 kontes yang ada. Perwakilan dari SMK Negeri 4 Serang mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas prestasi yang diraih tim mereka, dan berharap di penyelenggaraan tahun depan BEKRAF Habibie Festival akan menampilkan lebih banyak aktivitas edukatif.

Dalam sambutannya, Pendiri dan Ketua Gerakan Berkarya!Indonesia, Ilham Akbar Habibie, mengungkapkan kegembiraan atas capaian festival. “Sampai pagi tadi tercatat ada sekitar 71 ribu orang datang ke BEKRAF Habibie Festival 2017,” ucapnya, disambut tepuk tangan para hadirin. Ia melanjutkan, hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat haus akan sebuah festival yang mewadahi kreativitas dan inovasi anak bangsa dalam bidang teknologi. “Karena budaya dan teknologilah yang akan menentukan masa depan sebuah bangsa. Kita harus mulai menjadi bangsa yang kenal dan mempelajari teknologi. Indonesia jangan hanya menjadi pasar bagi kemajuan teknologi.”

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF), Ricky Pesik, dalam kesempatan lain menyatakan bahwa kemitraan pihaknya dengan Habibie Festival harus diteruskan. “Ekonomi kreatif dan teknologi adalah dua sisi dari satu mata koin yang sama. Karena itulah sangat penting bagi BEKRAF untuk bergandeng tangan dengan Habibie Festival, mengabarkan kepada dunia tentang kemajuan teknologi di Indonesia,” ujar ia. BEKRAF berharap, lanjut Ricky, BEKRAF Habibie Festival kelak akan menjadi market hub yang menjual inovasi IPTEK. “Tantangannya adalah monetizing inovasi yang sudah dikembangkan. Semoga festival ini menjadi semakin besar dan terpandang di kawasan Asia bahkan dunia,” pungkasnya.

Simbolis penutupan dilakukan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden Ketiga RI, Bapak Teknologi Indonesia, sekaligus ikon dari BEKRAF Habibie Festival, dengan mengetuk meja podium sebanyak tiga kali. “Bangsa Indonesia harus bangkit dengan industri kedirgantaraan, karena Indonesia terdiri dari pulau-pulau. Bagaimana bisa membangun kalau tidak ada alat pemersatunya?” kata sang arsitek proyek patungan pesawat R80 tersebut. Lebih lanjut Habibie bersyukur dirinya bisa menginspirasi generasi muda untuk meneruskan gerakan pengembangan IPTEK di Indonesia. “BEKRAF Habibie Festival dibuat oleh anak bangsa untuk memperlihatkan karya mereka, tanpa lelah,” tandasnya. Habibie yakin masa depan Indonesia akan cerah karena 70 persen populasinya berusia di bawah 35 tahun. “Bekerjalah bahu-membahu menciptakan karya dan membangun peradaban tanpa melihat perbedaan,” pungkasnya.

Selain sesi penyerahan hadiah dan sambutan-sambutan, acara penutupan BEKRAF Habibie Festival 2017 diisi pula oleh penampilan Paduan Suara KBL, grup musik Garuda, dan standup comedian Mo Sidik. (CP/Habibiefestival.com)